Ajeng Hikmahning Pangesti 4EB11 22209436 Tugas Pemberian Opini Akuntansi Internasional Sumber : http://anothersimplething.blogspot.com/2012/10/perbandingan-akuntansi-antar-negara-di.html Perbandingan Akuntansi antar Negara di ASIA (INA,THAI,CINA) Banyak negara berkembang mempunyai sejarah penjajahan seperti Indonesia (Belanda); India, Pakistan, Hong Kong, Singapura dan Malaysia (Inggris); dan philipina (Spanyol/AS). Cina juga telah di pengaruhi oleh ide barat dan sosialis dari bekas Uni Soviet. Pada tahun 1997, banyak negara berkembang di Asia mengalami kemunduran kepercayaan diri didalam pasar keuangan, yang berujung pada krisis finansial. Salah satu jalan keluar dari hal ini adalah meningkatkan kualitas dan transparansi akuntansi dengan cara mengadopsi kualitas dan transparansi akuntansi, dengan cara mengadopsi kualitas yang lebih tinggi dari standar akuntansi. Cina Perubahan besar tekanan di bawah Cina terjadi dari fokus utama pada informasi yang dibutuhkan oleh pemerintah, yang. Menuju ke sudut pandang yang lebih luas termasuk oleh investor, kreditor dan manajemen perusahaan. Sebuah keputusan yang berorientasi mikro yang menahan ukuran kontrol makro ekonomi-keseimbangan yang diberikan ke tradisis Cina oleh keseragaman dan peraturan yang detail. RRC adalah negara yang menganut paham komunis, oleh karena itu pemerintah, melalui hukum yang ditetapkan oleh Kongres Rakyat Nasional, adalah pengaruh utama dari akuntansi dan auditing. Meskipun sejarah akuntansi di Cina bisa dilacak 2000 tahun yang lalu, pada awal tahun 1900 sistem pembukuan ganda dikenalkan,. Kemudian pada tahun 1940, sistem akuntansi berorientasi barat dilaksanaka pada perusahaan besar dan pelajaran akuntansi di tingkat universitas pun meningkat dipengaruhi oleh UK dan AS. Tetapi RRC pada tahun 1949 berubah drastis dengan pengenalan sistem akutansi Uni Soviet dan tekanan atas keseragaman dan kontrol terpusat untuk tujuan rencana nasional. Sejak 1978, pendekatan ini telah dimodifikasi mengikuti kebijakan "pintu terbuka" ke dunia luar dan program ambisius Cina untuk meodernisasi. Dengan mreformasi ekonomi yang menuju ke arah orientasi ekonomi telah mendatangkan beberapa reformasi akuntansi. Hukum akuntansi RRC diadopsi pada tahun 1985 dan direvisi pada 1993 dan lagi 1999, ditetapkan prinsip umum yang peduli tentang pean dan lingkungan akuntansi, dan didukung oleh MOF untuk mengeluarkan standar akuntansi. Pada tahun 1992, dasar akuntansi untuk perusahaan bisnis dan kerangka kerja konseptual unuk RRC di keluarkan, pada awal tahun 1993 standar akuntansi dikembangkan ke dalam berbagai topik dengan standar akhir yang dikeluarkan. Pada tahun 1998, peraturan yang diaplikasikan untuk bergabung ke perusahaan diganti dengan keluarnya sistem akuntansi untuk bergabung dengan PT. mengikuti revisi peraturan akuntansi pada tahun 1999, Dewan RRC juga mengeluarkan FARR untuk perusahaan. Yang mana memperbaharui definisi dari aset, liabilitas, ekuitas pemilik, pendapatan dan beban yang sebelumnya sama dengan standar dasar. FARR juga mengelompokan komponen pertanyaan keuangan/laporan keuangan termasuk laporan arus kas, neraca saldo dan laporan laba rugi. Standar akuntansi yang baru, dibangun sebagai standar dasar dan rangkaian dari standar spesifik, yang menggambarkan perubahan besar dengan pendekatan dalam akuntansi Cina dalam hal semua perusahaan sekarang perlu patuh dengan gabungan dari prinsip akuntansi. Tetapi isi yang paling penting dalam konteks standar akuntansi yang baru. Ini mengambarkan sebuah area baru dalam akuntansi Cina. Satu berdasarkan dari pendekatan pasar yang berorientasi barat lebih dari gaya lama Uni Soviet. Akuntansi keuangan berdasakan pada kesamaan sember dana dan pengaplikasian dana, telah diperbaharui dan diganti dengan penjumlahan akuntansi, dimana aset-aset equal liabiltas ditambah modal/ekuitas pemilik. Dalam pembuatan perubahan ini, kepentingan grup pengguna yang lebih luas melebihi pemerintah. Telah dikenali, di beri nama, investor, kreditor dan manajemen perusahaan. Informasi akuntansi sekarang harus bertemu dengan lebih dari persyaratan untuk kontrol makro ekonomi nasional. Jadi posisi keuangan perusahaan dan hasil operasi bisa dimengerti dan praktik finansial &administrasi yang telah dikuatkan, informasi akuntansi juga harus bertemu dengan kepentingan/kebutuhan pengguna eksternal dan manajemen. Meskipun pemerintah melalui MOF dan agensi akuntansi resmi, DAAA telah menetapkan reformasi akuntansi, ini sangat adil untuk dikatakan bahwa organisasi akuntansi ,yang notabene adalah Asosiasi Akuntansi Cina, sebuah badan yang mengkhususkan dalam penelitian dalam pendidikan, teori dan praktik akuntansi, telah memainkan peranan penting. Asosiasi ini didirikan pada tahun 1980, membentuk grup penelitian dalam teori dan standar akuntansi dengan kebanyakan anggotannya yang memiliki pendidikan setara dengan profesor. Indonesia Berdasarkan seajarah, sistem akuntansi Indonesia didasari oleh sistem akuntansi Belanda sebagai hasil dari pengaruh Belanda di negeri ini. Tetapi, ikatan antara kedua negara rusak pada pertengahan tahun 1900. Indonesia berubah mengikuti praktik akuntansi AS. IAI didirikan pada tahun 1959 untuk membimbing akuntan Indonesia. Pada tahun 1970 IAI membuat kode dan diadopsi oleh prinsip dan dasar akuntansi berdasarkan GAAP As pada waktu itu. Sistem akuntansi Indonesia berfokus kepada informasi yang dibutuhkan oleh investor diatas permintaan pemerintah. Pada tahun 1974, IAI membuat komite standar akuntansi keuangan untuk membuat standar keuangan. Indonesia telah membuat perkembangan ekonomi yang bagus pada dekade yang lalu. Tetapi krisis fiansial asia membuat negara ini menuju ke arah kemiskinan. Sejak krisis, Indonesia telah melakukan beberapa perubahan sosial dan politik. Yang menghasilkan perubahan substansial dan merubah drajat kemakmuran sperti sebelum krisis. Pada tahun 1994, komite standar akuntansi keuangan direkonstruksi sebagai aturan standar akuntansi yang lebih independen atas IAI, sekarang DSAK bekerja untuk mengharmonisasi standar akuntansi indonesia dengan IFRS. Thailand Thailand adalah salah satu negara di Aasia Tenggara yang berhasil menghindari penjajahan. Tetapi sistem akuntansi di negara ini menghargai transparansi dan kebutuhan informasi investor, mirip dengan negara Anglo-Amerika. Setelah krisis keuangan tahun 1997. Thailand menerapkan reformasi untuk meningkatkan kerjasama pemerintah dan meningkatkan investasi untuk kompetisi. Perekonomian Thailand pulih dengan cepat dan mengalami pertumbuhan yang bagus. Tingkat kemiskinan juga menurun sebagai akibat dari penguatan ekonomi. Standar akun dikeluarkan oleh ICAAT, yang didirikan pada tahun 1948. tetapi, standar akuntansi Thailand harus disetujui oleh menteri keuangan dan ditempatkan secara hukum sebelum perusahaan menggunakan mereka. Sekarang ICAAT telah mengadopsi 21 dari seluruh standar IAS. Komisi bursa saham Thailand mensyaratkan bahwa semua perusahaan yang mendaftarkan diri pada SET (bursa saham Thailand) harus diaudit oleh auditor eksternal dan independen. Lebih jauh lagi perusahaan yang ingin mendaftarkan diri dalam bursa harus memenuhi beberapa persyaratan yang dibutuhkan oleh investor. Sebagai tambahan , ini sudah diputuskan bahwa pengawasan perusahaan yang sudah masuk ke dalam bursa saham yang dulunya dilakukan oleh menteri keuangan sekarang di pindahkan ke Thailand SEC yang mana akan menghasilkan peraturan organisasi dan penekanan hukum ke perusahaan yang sudah terdaftar dalam bursa saham. OPINI : Good Governance dapat diartikan sebuah pemerintahan yang baik yang berdampak baik dalam pesatnya kemajuan ekonomi pada Negara tersebut. Dari artikel diatas, menurut saya Akuntansi yang bersih dan transparan serta dampak ekonomi yang lebih baik dapat tercipta bila pemerintah lebih terbuka, lebih bekerja sama dengan pihak swasta serta lebih mendorong geliat ekonomi dengan menyediakan berbagai sarana dan peraturan Audit yang steril. Pada Negara Cina karakteristik Good Governance yaitu “Participation” terletak pada keputusan Kongres Rakyat Nasional yang menghasilkan “ pengaruh utama dari akuntansi dan auditing”. Sehingga tercipta pengendalian yang ketat terhadap pengendalian dana dan tansparansi. Pihak sawata juga harus membuat laporan laba yang bisa dipahami sehingga ekonomi terus naik. Cina telah memenuhi beberapa karakteristik lainnya dalam Good governance “Transparency, Responsiveness, Consensus Orientation, Equity, dan Accountability”. Pada Negara Thailand pemerintahan juga memegang peranan penting dalam pengendalian peraturan akuntasi untuk mencengah berbagai penyelewengan serta akurasi laba. Sehingga ekonominya terus naik, sector publiknya pun cukup baik sehingga dapat memberikan kontribusi yang cukup besar untuk pembangunan nasional dan stabilitas politik. Di Indonesia, lebih popular system anglo-saxon yang memang sudah rinci bentuk laporan keuangannya, system anglo-saxon sendiri masuk kedalam Indonesia sejak penanaman modal asing masuk ke Indonesia. Sehingga peran pemerintah dalam pembentukan Good Governance harunya lebih keras dan lebih terbuka, agar investasi modal asing semakin banyak dan geliat ekonomi di Indonesia sendiri menjadi subur seperti di Negara Cina dan Thailand.
Sabtu, 16 Maret 2013
Perbandingan Akuntansi antar Negara di ASIA (INA,THAI,CINA)
Posted by Ajeng HP at 20.32.00 0 comments
Labels: Tugas Akuntansi Internasional
Minggu, 10 Juni 2012
Tugas Tenses
AJENG HIKMAHNING PANGESTI 3EB11 ENGLISH BUSINESS 2 English as Language of Global Education New York Times By DOREEN CARVAJAL Published: April 11, 2007 When economics students returned this winter to the elite École Normale Supérieure here, copies of a simple one-page petition were posted in the corridors demanding an unlikely privilege: French as a teaching language. “We understand that economics is a discipline, like most scientific fields, where the research is published in English,” the petition read, in apologetic tones. But it declared that it was unacceptable for a native French professor to teach standard courses to French-speaking students in the adopted tongue of English. In the shifting universe of global academia, English is becoming as commonplace as creeping ivy and mortarboards. In the last five years, the world’s top business schools and universities have been pushing to make English the teaching tongue in a calculated strategy to raise revenues by attracting more international students and as a way to respond to globalization. Business universities are driving the trend, partly because changes in international accreditation standards in the late 1990s required them to include English-language components. But English is also spreading to the undergraduate level, with some South Korean universities offering up to 30 percent of their courses in the language. The former president of Korea University in Seoul sought to raise that share to 60 percent, but ultimately was not re-elected to his post in December. In Madrid, business students can take their admissions test in English for the elite Instituto de Empresa and enroll in core courses for a master’s degree in business administration in the same language. The Lille School of Management in France stopped considering English a foreign language in 1999, and now half the postgraduate programs are taught in English to accommodate a rising number of international students. Over the last three years, the number of master’s programs offered in English at universities with another host language has more than doubled, to 3,300 programs at 1,700 universities, according to David A. Wilson, chief executive of the Graduate Management Admission Council, an international organization of leading business schools that is based in McLean, Va. “We are shifting to English. Why?” said Laurent Bibard, the dean of M.B.A. programs at Essec, a top French business school in a suburb of Paris that is a fertile breeding ground for chief executives. “It’s the language for international teaching,” he said. “English allows students to be able to come from anyplace in the world and for our students — the French ones — to go everywhere.” This year the university is celebrating its 100th anniversary in its adopted tongue. Its new publicity film debuted in English and French. Along one of the main roads leading into Paris loomed a giant blue billboard boasting of the anniversary in French and, in smaller letters, in English. Essec has also taken advantage of the increased revenue that foreign students — English-speaking ones — can bring in. Its population of foreign students has leapt by 38 percent in four years, to 909 today out of a student body of 3,700. The tuition for a two-year master’s degree in business administration is 19,800 euros for European Union citizens, and 34,000 euros for non-EU citizens. “The French market for local students is not unlimited,” said Christophe N. Bredillet, the associate dean for the Lille School of Management’s M.B.A. and postgraduate programs. “Revenue is very important, and in order to provide good services, we need to cover our expenses for the library and research journals. We need to cover all these things with a bigger number of students so it’s quite important to attract international students.” With the jump in foreign students, Essec now offers 25 percent of its 200 courses in English. Its ambition is to accelerate the English offerings to 50 percent in the next three years. Santiago Iñiguez de Ozoño, dean of the Instituto de Empresa, argues that the trend is a natural consequence of globalization, with English functioning as Latin did in the 13th century as the lingua franca most used by universities. “English is being adapted as a working language, but it’s not Oxford English,” he said. “It’s a language that most stakeholders speak.” He carries out conversation on a blog, deanstalk.net, in English. But getting students to feel comfortable speaking English in the classroom is easier said than done. When younger French students at Essec start a required course in organizational analysis, the atmosphere is marked by long, uncomfortable silences, said Alan Jenkins, a management professor and academic director of the executive M.B.A. program. “They are very good on written tasks, but there’s a lot of reticence on oral communication and talking with the teacher,” Dr. Jenkins said, adding that he used role-playing to encourage students to speak. He also refuses to speak in French. “I have to force myself to say, ‘Can you give me that in English?’ ” Officials at Ewha Womans University in Seoul are also aware that they face a difficult task at the first stage of their Global 2010 project, which will require new students to take four classes in English, two under the tutelage of native English-speaking professors. The 120-year-old university has embarked on a hiring spree to attract 50 foreign professors. At the beginning, “teaching courses in English may have less efficiency or effectiveness in terms of knowledge transfer than those courses taught in Korean,” said Anna Suh, program manager for the university’s office of global affairs, who said that students eventually see the benefits. “Our aim for this kind of program is to prepare and equip our students to be global leaders in this new era of internationalization.” The Lille management school is planning to open a satellite business school program next fall in Abu Dhabi, United Arab Emirates, where the working language will also be in English. “Internationally, the competition is everywhere,” Dr. Bredillet said. “For a master’s in management, I’m competing with George Washington University. I’m competing with some programs in Germany, Norway and the U.K. That’s why we’re delivering the curriculum in English.” Simple Past • When economics students returned this winter to the elite École Normale Supérieure here, copies of a simple one-page petition were posted in the corridors demanding an unlikely privilege: French as a teaching language. Trans : Ketika siswa ekonomi kembali musim dingin ini dengan elit École Normale Supérieure di sini, salinan dari satu halaman petisi sederhana yang diposting di koridor menuntut hak istimewa yang tidak mungkin: Prancis sebagai bahasa pengajaran. • Over the last three years, the number of master’s programs offered in English at universities with another host language has more than doubled. Trans : Selama tiga tahun terakhir, jumlah program master ditawarkan dalam bahasa Inggris di universitas-universitas dengan bahasa nasional telah lebih dari dua kali lipat Simple Present • We understand that economics is a discipline, like most scientific fields, where the research is published in English. Trans : Kami memahami bahwa ekonomi adalah disiplin, seperti bidang yang paling ilmiah, dimana penelitian ini diterbitkan dalam bahasa Inggris Present Perfect • Essec has also taken advantage of the increased revenue that foreign students — English-speaking ones — can bring in. Its population of foreign students has leapt by 38 percent in four years, to 909 today out of a student body of 3,700. Trans : Essec juga telah mengambil keuntungan dari peningkatan pendapatan mahasiswa yang asing, yang berbahasa Inggris yang dapat membawa masuk Populasinya mahasiswa asing telah melompat sebesar 38 persen dalam empat tahun, untuk 909 hari ini keluar dari mahasiswa 3.700. Present Continous • Business universities are driving the trend, partly because changes in international accreditation standards in the late 1990s required them to include English-language components. Trans : Universitas Bisnis mendorong tren, sebagian karena perubahan dalam standar akreditasi internasional di akhir 1990-an mengharuskan mereka untuk memasukkan komponen bahasa Inggris • This year the university is celebrating its 100th anniversary in its adopted tongue. Its new publicity film debuted in English and French. Trans : Tahun ini universitas adalah merayakan ulang tahun ke-100 dalam adopsi lidahnya. Ini Film publisitas baru memulai debutnya di Inggris dan Perancis. *************************************************************** How to Go Green: Why to Go Green You've probably noticed that green is everywhere these days--in the news, politics, fashion, and even technology. You can hardly escape it on the Internet, and now with the Planet Green TV network, you can even enjoy eco-friendly entertainment 24 hours a day. That's all great as far as we're concerned, but with a million messages and ideas coming at us from all sides, it can be easy to get caught up in the quotidian stuff--switching to organic foods, turning down the thermostat, recycling, say -- without thinking about the big picture of how your actions stack up. Worse, you could even be suffering from a little green "fatigue" -- that is, tuning out the green messages due to their ubiquity. While it's easy to get overwhelmed, it's also simple to begin making a positive impact. Since it's helpful to understand the big picture when it comes to setting to smaller goals, we've adjusted our focus for this guide--a departure from out typical "how to go green" content, which typically tackles very specific topics such as kitchens, cars, or pets -- to take a broader look at the reasons behind why we should go green. As globalization makes the world become smaller, it becomes increasingly easy to see how the lives of people (and plants and animals and ecosystems) everywhere are closely synced up with one another. So toys made in China can affect the quality of life in Europe, pesticides used in Argentina can affect the health of people in the U.S., and greenhouse gas emissions from Australia can affect a diminishing rainforest in Brazil. The truth is that everything single thing we do every day has an impact on the planet -- good or bad. The good news is that as an individual you have the power to control most of your choices and, therefore, the impact you create: from where you live to what you buy, eat, and use to light your home to where and how you vacation, to how you shop or vote, you can have global impact. For example, did you know that 25 percent of Western pharmaceuticals are derived from flora that come from the Amazon rainforest? And that less that one percent of these tropical trees and plants have been tested by scientists? These numbers suggest that we all have a large (and growing) personal stake in the health and vitality of places far and near. In addition to protecting biodiversity (and inspiring medicine), rainforests are also excellent carbon sinks. Bottom line: It benefits everyone on the planet to help keep our wild spaces alive and growing. But embracing a greener lifestyle isn't just about helping to preserve equatorial rain forests, it can also mean improving your health, padding your bank account, and, ultimately, improving your overall quality of life. All that and you can save furry animals, too? Why wouldn't anyone want to green? Keep reading for all the important, big-picture details. • Simple Present As globalization makes the world become smaller, it becomes increasingly easy to see how the lives of people (and plants and animals and ecosystems) everywhere are closely synced up with one another. Trans : Saat globalisasi membuat dunia menjadi lebih kecil, menjadi semakin mudah untuk melihat bagaimana kehidupan orang-orang (dan tumbuhan dan hewan dan ekosistem) dimanapun berhubungan erat selaras dengan satu sama lain. • Present Perfect - You've probably noticed that green is everywhere these days--in the news, politics, fashion, and even technology. You can hardly escape it on the Internet, and now with the Planet Green TV network, you can even enjoy eco-friendly entertainment 24 hours a day. Trans : Anda mungkin pernah memperhatikan bahwa hijau di mana-mana hari ini - dalam berita, politik, fashion, dan bahkan teknologi. Anda tidak bisa menghindarinya di Internet, dan sekarang dengan jaringan TV planet hijau, Anda bahkan bisa menikmati hiburan yang ramah lingkungan 24 jam sehari
Posted by Ajeng HP at 20.13.00 0 comments
Labels: softskill bahasa inggris
